Sabtu, 03 Desember 2011

tafsir surat qaf ayat 1-6

1 Qaaf Demi al-Quran yang sangat mulia.(QS. 50:1)


وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ (1)
Telah diungkapkan sebelum ini bahwa huruf-huruf abjad yang ada pada permulaan surah biasanya memperingatkan betapa pentingnya perkara yang disebut Kemudian, dan sering sekali yang disebut itu ialah sifat Alquran seperti yang disebutkan di sini.
Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan kitab Nya yang mengandung banyak berkat dan kebaikan (Alquran) yang sangat mulia, bahwa Nabi Muhammad saw itu benar-benar seorang utusan Allah yang memberi peringatan kepada kaumnya tentang adanya hari kebangkitan seperti pula tersebut dalam permulaan surah Yasiin yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw itu sungguh-sungguh adalah salah seorang dari Rasul-rasul yang diutus agar ia memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah bapak-bapak mereka diberi peringatan, karena itu mereka lalai.


2 (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: `Ini adalah suatu yang amat ajaib`(QS. 50:2)

بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ (2)
Mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad, bahkan mereka itu bukan saja ragu-ragu dan mengingkari kerasulannya, malahan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang manusia yang memberi peringatan dari kalangan mereka sendiri. Mereka memandang sungguh aneh bahwa Allah mengutus seorang manusia seperti mereka sendiri, yang biasa makan minum dan berkeluarga, yang biasa tidur dan kadang-kadang kena penyakit.
Mereka membayangkan bahwa seorang utusan Allah itu mesti seorang malaikat seperti diterangkan dalam firman Allah:

أبشرا منا واحدا نتبعه
Artinya:
"Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita".
(Q.S. Al-Qamar: 24)
dan ayat yang lain seperti itu:

قالوا إن أنتم إلا بشرا مثلنا
Artinya:
Mereka berkata: "Kamu tidak lain hanya manusia seperti kami juga".
(Q.S. Ibrahim: 10)


3 Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.(QS. 50:3)

أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ذَلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ (3)
Setelah mereka memperlihatkan rasa terkejutnya tentang kerasulan Muhammad saw itu, mereka dengan penuh rasa keingkaran dan cemoohan berkata. "Apakah kami setelah mati dan setelah tulang belulang kami menjadi tanah dan berserakan di dalam bumi, akan kembali hidup lagi?" Mereka memandang bahwa bangkit dari kubur itu suatu hal yang mustahil, yang tidak mungkin terjadi dan sama sekali tidak masuk akal, karena mereka mengukur kekuasaan Allah sama dengan kekuasaan mereka.


4 Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh mereka), dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat).(QS. 50:4)

قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْأَرْضُ مِنْهُمْ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ (4)
Dalam ayat ini, Allah mengemukakan dalil atas kebangkitan dari kubur itu karena Allah SWT sungguh-sungguh mengetahui apa yang telah dimakan dan dihancurkan oleh bumi dari tubuh-tubuh mereka, ke mana dari bagian-bagian tubuh manusia itu berpindah atau bergeser dan kemudian jadi apa, sebab semua kejadian itu perinciannya ada di sisi Allah. tercatat dan terpelihara dalam kitab yang semuanya itu menggambarkan bahwa tidak sulit bagi Allah untuk menghidupkan mereka kembali pada Hari Kiamat, hari yang pasti akan datang.


5 Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam kadaan kacau balau.(QS. 50:5)

بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ (5)
Sesungguhnya mereka telah mendustakan dan mengingkari kerasulan Muhammad saw Rasul yang diperkuat dengan mukjizat. Bila mereka mendustakan pula berita-berita yang dibawa oleh Rasulullah saw hal itu lebih mengakibatkan kecelakaan karena telah memutuskan hubungan antara Allah dengan Rasul Nya yang paling terhormat dan dicintai sebagai Sayyidul Mursalin.
Karena itu, mereka terus-menerus berada dalam keadaan kacau balau. Mereka mengingkari kerasulan dari kalangan manusia dan mereka beranggapan bahwa yang patut jadi utusan Allah itu hanyalah mereka yang mempunyai kedudukan dan keturunan yang tinggi. Dan ucapan mereka itu disebut oleh Allah SWT dalam firman Nya:

لولا نزل هذا القرآن على رجل من القريتين عظيم
Artinya:
"Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini?"
(Q.S. Az Zukhruf: 31)
Lebih celaka lagi karena mereka memandang Nabi itu sebagai seorang tukang sihir, dukun atau orang gila. Ucapan dan pandangan mereka itu menunjukkan bahwa mereka tidak tetap dalam pendirian, tidak tahu apa yang mereka ucapkan dan pikiran mereka selalu kacau-balau.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Qaaf 5
بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ (5)
(Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran) yakni Alquran (tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka) menanggapi tentang perihal Nabi saw. dan Alquran (berada dalam keadaan kacau-balau) yakni tidak menentu, terkadang mereka mengatakan, bahwa Nabi adalah penyihir dan Alquran adalah sihir, terkadang juga mengatakan bahwa dia adalah penyair dan Alquran adalah syairnya, terkadang mereka mengatakan bahwa dia adalah seorang peramal dan Alquran adalah ramalannya.


6 Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun(QS. 50:6)

أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ (6)
Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan supaya mereka memandang ke langit yang ada di atas mereka untuk dijadikan bahan pemikiran, bagaimana Allah telah meninggikan langit itu tanpa tiang-tiang dan menghiasinya dengan berbagai-bagai bintang yang gemerlapan, sedangkan langit itu tidak retak sedikit pun.
Dari segi ilmu pengetahuan, menurut penemuan yang terakhir dinyatakan bahwa langit itu merupakan benda kolosal yang homogen yang tidak dilapisi dengan benda-benda yang retak dan kosong, akan tetapi padat diisi dengan sejenis benda halus yang bernama ether (al asir) dan benda yang halus ini diketahui karena menjadi tempat lalu lintasnya nur atau cahaya. Di antara bintang-bintang itu, ada yang jauhnya dari bumi dengan jarak kecepatan cahaya dalam masa lebih dari sejuta setengah tahun, sedangkan matahari kita sendiri jauhnya dari bumi hanya dengan jarak kecepatan cahaya selama delapan menit dan delapan belas sekon. Silakan membayangkan betapa jauhnya sebagian bintang yang ada di cakrawala itu. Cahaya yang disinarkan oleh bintang itu ke bumi melalui ether itu dan seandainya benda halus itu tidak ada, tentu cahayanya akan terputus. Oleh karena itu, dalam ayat ini dinyatakan bahwa langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun.
 (menurut asbabun nuzul)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar